Jumat, 30 Maret 2018

Konservasi Arsitektur

NPM : 20314933

KONSEP KONSERVASI ARSITEKTUR 
dan STUDY KASUS
 

PENGERTIAN KONSERVASI
Theodore Roosevelt (1902) merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi yang berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian tentang upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use).
Gambar 1 : Contoh bangunan konservasi
Menurut Danisworo (1991), konservasi merupakan upaya memelihara suatu tempat berupa lahan, kawasan, gedung maupun kelompok gedung termasuk lingkungannya. Di samping itu, tempat yang dikonservasi akan menampilkan makna dari sisi sejarah, budaya, tradisi, keindahan, sosial, ekonomi, fungsional, iklim maupun fisik (Danisworo, 1992). Dari aspek proses disain perkotaan (Shirvani, 1985), konservasi harus memproteksi keberadaan lingkungan dan ruang kota yang merupakan tempat bangunan atau kawasan  bersejarah dan juga aktivitasnya.

KONSEP KONSERVASI
Pada awalnya konsep konservasi terbatas pada pelestarian bendabenda/monumen bersejarah (biasa disebut preservasi). Namun konsep konservasi tersebut berkembang, sasarannya tidak hanya mencakup monumen, bangunan atau benda bersejarah melainkan pada lingkungan perkotaan yang memiliki nilai sejarah serta kelangkaan yang menjadi dasar bagi suatu tindakan konservasi.
Dalam Burra Charter, konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau objek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Pengertian ini sebenarnya perlu diperluas lebih spesifik yaitu pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja.

Konsep Heritage Investment
Konservasi berkaitan erat dengan nilai sosial ekonomi bangunan dan kawasannya. Sehingga pemahaman tentang pentingnya revitalisasi yang terkait erat dengan pengembangan ekonomi lingkungan perlu diupayakan untuk merubah dan menumbuhkan minat masyarakat dan swasta untuk melakukan investasi pada pelestarian pusaka alam dan budaya. Dengan demikian semangat konservasi menjadi fondasi untuk kemitraan yang akan ditumbuhkan. Penyertaan swasta untuk melakukan investasi di bidang ini memerlukan komitmen jangka panjang dan kapasitas pengelolaan yang handal rancangan untuk heritage investment sehingga revitalisasi kawasan dapat berkembang berkelanjutan.

KONSERVASI ARSITEKTUR
Konservasi arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi.
Arsitektur menempatkan fakta kesejarahan dan makna bangunan bagi kehidupan manusia dengan upaya memelihara teknis serta nilai fungsinya. Pelestarian bangunan bersejarah harus membuka penafsiran baru akan makna baru. Berarti harus diimplemntasikan konsep-konsep dalam perencanaan dan perancangan arsitektur seperti keterkaitan antarkeberadaan bangunan dan eksistensi pemakainya menyangkut kenyamanan.

KRITERIA KONSERVASI
Kriteria konservasi arsitektur diantaranya sebagai berikut:
·     Estetika bangunan-bangunan atau dari bagian kota yang dilestarikan karena mewakili prestasi khusus dalam suatu gaya sejarah tertentu.Tolak ukur estetika ini dikaitkan dengan nilai estetis dari arsitektonis: bentuk, tata ruang dan ornamennya.

·     Kejamakan bangunan-bangunan atau bagian dari kota yang dilestarikan karena mewakili satu kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup berperan. Penekanan pada karya arsitektur yang mewakili ragam atau jenis yang spesifik.

·     Kelangkaan bangunan yang hanya satu dari jenisnya, atau merupakan contoh terakhir yang masih ada. Karya langka atau satu-satunya di dunia atau tidak dimiliki oleh daerah lain.

·          Keistimewaan
Bangunan-bangunan ruang yang dilindungi karena memiliki keistimewaan, misalnya yang tertinggi, tertua, terbesar pertama dan sebagainya.

·         Peranan Sejarah
Bangunan-bangunan dari lingkungan perkotaan yang merupakan lokasi-lokasi bagi peristiwa-peristiwa bersejarah yang penting untuk dilestarikan sebagai ikatan simbolis antara peristiwa terdahulu dan sekarang.

·         Memperkuat Kawasan
Bangunan-bangunan dan di bagian kota yang karena investasi di dalamnya, akan mempengaruhi kawsan-kawasan di dekatnya, atau kehadiratnya bermakna untuk meningkatkan kualitas dan citra lingkungan sekitarnya.

STUDI KASUS
Konservasi Heritage Factory Outlet, Bandung
Nama Bangunan Lama : British Institute
Nama Bangunan Baru  : Heritage Factory Outlet –Bandung
Alamat                       : Jl Martadinata No.63, Bandung

 Gambar 2 : Heritage Facory Outlet
 Sumber : https://mayasagisena.wordpress.com/2017/07/01

Heritage yang merupakan bekas gedung British Institute ini dibangun antara 1895 – 1900 atau pada 1898 dengan gaya Belanda Klasik (Art Deco), memiliki kolom yang khas. Hingga kini arsitek yang merancang bangunan itu belum diketahui. Heritage Factory Outlet, satu dari bangunan cagar budaya yang dilindungi dan dilestarikan keberadaannya di Kota Bandung dengan arsitektur klasik yang masih utuh. Pilar ioniknya menjadi ciri khas dengan seni arsitektur yang tinggi. Tampak dari depan, eksterior bangunan menampilkan empat pilar utama yang menyangga kubah pendek setengah lingkaran, sebagai pintu masuk. Kubah itu memiliki corak lingkaran, di bawahnya kolom – kolom tinggi yang ditopang banyak pilar.

Gambar 3 : Gedung Heritage Factory tahun 80-an

Gedung memilki bagian sayap dengan desain melingkar di samping sama seperti bangunan Gedung Merdeka. Sayap gedung sekarang dipergunakan sebagai Heritage Food Market dan kafe Mama Kitchen. Bagian sayap kanan merupakan penyambung dengan gedung lain, yaitu Cascade yang memiliki konsep arsitektur bergaya modern. Interior bangunan Heritage masih mempertahankan gaya klasik dengan dinding bercat putih dan bersalur batu bata berukuran besar. Setelah menjadi Factory Outlet, dinding dihiasi foto-foto retro dari bangunan-bangunan tua di Kota Bandung. Bagian dalam bangunan terdiri atas dua lantai semi – terbuka yang digunakan untuk memajang aneka produk pakaian. Heritage dapat dikatakan sebagai salah satu market leader Factory Outlet yang pertama di Kota Bandung.
Gambar 4 : Gedung Heritage A,B,C,D
Sumber : https://mayasagisena.wordpress.com/2017/07

Mulai diinisiasi pada 1999 dan buka pada 2000, menjual aneka produk pakaian dari dalam dan luar negeri. Heritage memiliki halaman parkir yang luas dan pepohonan yang cukup rindang sebagai nilai tambah. Barang yang dijual tidak hanya pakaian, tetapi ada berbagai aksesoris, kerajinan tangan, home living, pernak-pernik dan food market yang mendorong Kota Bandung sebagai salah satu tujuan wisata belanja.
Gambar 5 : Salah satu interior Heritage Factory Outlet

Bangunan Heritage Factory Outlet merupakan hasil konservasi dimana bangunan berubah fungsi namun tetap mempertahankan struktur maupun fasad bangunan. Pada dasarnya bangunan tersebut tetap mempertahankan bentuk asli bangunan sehingga nilai sejarah yang ada di dalamnya tidak hilang. Dengan adanya konservasi pada bangunan tersebut memiliki tidak hanya nilai sejarah tapi juga nilai keagamaan dan nilai komersial dimana masyarakat sekitarnya dapat ikut menikmati bangunan tersebut.


Selasa, 28 November 2017

Esplanade – Teater di Teluk Singapura



Metode Kritik Arsitektur
Kritik Normatif : Kritik yang disampaikan berdasarkan pada standart dan peraturan yang ada.

Kritik Penafsiran : Kritik yang bersifat subjektif dalam menanggapi sebuah karya yang dipergunakan untuk menghasilkan sebuah kritikan yang cenderung memberikan pandangan baru. Terdiri dari :
  1. Kritik Advokasi :  Pembelaan terhadap sebuah karya arsitektur, yaitu memberikan kritikan berupa hal positif dari karya tersebut, bukan untuk menjelekan suatu karya.
  2. Kritik Evokatif : Mengangkat kelebihan atau sisi baik suatu karya yang bertujuan untuk mengungkapkan daya tarik suatu karya secara emosional.
  3. Kritik Impresionistik : Memberikan suatu kesan terhadap sebuah karya sehingga dapat mempengaruhi untuk membuat sebuah karya yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Kritik Deskriptif : Penjelasan atau menggambarkan suatu karya sesuai dengan apa yang dilihat secara lebih terperinci. Terdiri dari :

1.      Kritik Penjelasan : Memberikan gambaran terhadap  baik buruknya sebuah karya sesuai dengan faktanya.
2.      Kritik Biografis : Kritik yang ditujukan kepada tokoh pembuat sebuah karya.
3.   Kritik Kontekstual : Membahas mengenai konteks pengaruh sosial, politik, ekonomi dan budaya terhadap sebuah karya arsitektur sehingga dapat terpengaruhi langgam/gaya bangunan.



--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Esplanade – Theatres on the Bay Singapore

Esplanade – Theatres on the Bay adalah salah satu icon negara Singapura. Letaknya persis bersebelahan dengan Patung Merlion yang berada di Merlion Park. Esplanade dibuka pada 12 Oktober 2002, dibangun dengan biaya S$ 600 juta atau sekitar 3,6 trilyun. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 6 hektar, menghadap ke pantai Marina Bay. Esplanade memiliki Concert Hall dengan 1.600 kursi penonton, dan stage yang mampu menampung 120 pemain musik.


Di tahun 1992, terpilih sebuah tim yang terdiri dari perusahaan lokal terkenal DP Architects (Singapura) dan Michael Wilford & Partners (Inggris) untuk memulai pekerjaan pembangunan pusat seni tersebut. Untuk mempertahankan keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, pusat seni ini akhirnya dinamakan Esplanade – Theatres on the Bay.
Esplanade bertujuan untuk menjadi pusat seni pertunjukan bagi semua kalangan, dan program-programnya menjangkau ke ragam audiens yang luas. Susunan programnya mencakup segala genre, termasuk musik, tari, teater dan seni visual, dengan fokus khusus pada budaya Asia.


Saat ini, icon arsitektur dengan rangka kembarnya yang unik ini berlokasi di dalam distrik pemerintahan Singapura, tepat di tepi Marina Bay di mulut Singapore River. Dua kubah yang menjadi lokasi Teater dan Concert Hall dirancang dengan bahan kaca, untuk memberi kesan terbuka.


Agar pusat seni tetap dingin di suhu tropis, lebih dari 7.000 keping penahan matahari dari aluminium bersama dengan rangka penutup berlapis glazur ganda dipasang pada rangka penopang baja untuk membentuk penutup yang menjadikan pusat seni ini sebuah ikon arsitektur mempesona, di depan cakrawala kota Singapura. Penutup berbentuk duri itu akhirnya menjadi nama sebutan yang populer berdasarkan buah favorit masyarakat lokal, Durian.


Esplanade Outdoor Theatre, menghadap langsung Marina Bay dan memiliki panjang sekitar 300m, theatre outdoor ini memiliki kapasitas tempat duduk sekitar 450 hingga 600 (berdiri) orang. Tempat ini sering dijadikan tempat pertunjukan dari berbagai aliran musik hingga tari-tarian dan juga seni theatre yang bisa kita tonton sambil menikmati suasana laut yang menyegarkan dan juga pemandangan yang menakjubkan.



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kritik :

Gedung Esplanade – Theatres on the Bay Singapore adalah sebuah karya Arsitektur yang luar biasa. Bangunan ini dirancang untuk menjawab permasalahan yang ditimbulkan oleh iklim tropis, Esplanade Singapore  bukan saja menarik secara estetika, namun juga dapat mengatasi permasalahan iklim tropis setempat, terutama dengan memperhatikan posisi matahari sebagai sumber kalor yang diterima bangunan.
Ide bentuk bangunan yang diambil pun sangat unik, yaitu dari bentuk buah tropis Durian. Disini arsitek merancang bagaimana bentuk dari duri-duri durian yang lancip tersebut bukan hanya sebagai estetika belaka saja, tetapi juga didesain sebagai jendela yang mana memanfaatkan cahaya alami dan sirkulasi udara.
Dikarenakan letak Esplanade berada dipinggir pantai/teluk, maka suhu udara pun sangat lah panas. Bagaimana caranya menggunakan material kaca tetapi suhu bangunan tetap dingin?
Untuk meredam suhu panas yang akan masuk kedalam bangunan, sang arsitek menggunakan sebuah teknologi bahan dalam penggunaan material fasad penutup gedung durian itu. Penggunaan kepingan penahan  sinar matahari dari aluminium bersama dengan rangka penutup berlapis glazur ganda mampu menjawab permasalahan iklim yang terdapat di tempat itu.
 Hal tersebut membuat Esplanade menjadi contoh karya arsitektur tropis yang baik, yang mana memperhatikan bentuk (estetika), teknologi, kenyamanan dan penggunaan energi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sumber dan referensi :